Assalamu’alaikum Warrahmatullahi Wabarkatuh

Rabu, 20 Mei 2026

Tradisi Kareku Kandei dan Analisis Ancaman Kepunahannya di Kabupaten Dompu

 Profil Tradisi Kareku Kandei dan Analisis Ancaman Kepunahannya di Kabupaten Dompu


Tradisi Kareku Kandei merupakan salah satu warisan budaya hidup masyarakat Mbojo yang berkembang di wilayah Bima dan Dompu, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Dalam bahasa Mbojo, “kareku” berarti memukul atau menumbuk secara berirama, sedangkan “kandei” berarti lesung, yaitu alat tradisional penumbuk padi. Tradisi ini pada awalnya lahir dari kehidupan agraris masyarakat Dompu yang sangat bergantung pada hasil pertanian, khususnya padi. Aktivitas menumbuk padi dilakukan secara bersama-sama oleh kaum perempuan menggunakan alu dan lesung kayu sambil menghasilkan irama tertentu yang khas.

Dalam perkembangannya, Kareku Kandei tidak hanya berfungsi sebagai aktivitas pengolahan hasil pertanian, tetapi juga menjadi media sosial budaya masyarakat. Bunyi irama lesung menjadi penanda adanya hajatan, syukuran, pesta adat, atau kegiatan gotong royong masyarakat. Ketika suara Kareku Kandei terdengar, masyarakat akan berdatangan untuk membantu pelaksanaan kegiatan yang sedang berlangsung. Tradisi ini mencerminkan tingginya nilai solidaritas, kebersamaan, dan rasa kekeluargaan masyarakat Dompu tempo dahulu.

Di Kabupaten Dompu, tradisi ini pernah hidup dan berkembang di berbagai wilayah pedesaan, terutama pada komunitas masyarakat agraris di Kecamatan Woja, Kempo, Hu’u, Manggelewa, Pajo, Dompu, dan Kilo. Tradisi ini biasanya dimainkan oleh kelompok perempuan dengan menggunakan pakaian adat seperti Tembe Nggoli, kain tenun khas Bima-Dompu. Irama pukulan alu pada lesung menghasilkan suara ritmis yang menjadi simbol komunikasi budaya masyarakat. Selain mengandung nilai estetika, Kareku Kandei juga menjadi ruang silaturahmi perempuan, media pewarisan budaya, serta bentuk ungkapan rasa syukur masyarakat terhadap hasil panen dan kehidupan sosial yang harmonis.

Namun, eksistensi Tradisi Kareku Kandei saat ini menghadapi tantangan serius. Perubahan pola kehidupan masyarakat akibat modernisasi menyebabkan fungsi utama tradisi ini mulai tergeser. Kehadiran mesin penggiling padi modern secara perlahan menggantikan penggunaan lesung tradisional yang dahulu menjadi pusat aktivitas budaya masyarakat. Akibatnya, alat-alat tradisional seperti kandei (lesung) semakin jarang digunakan bahkan mulai hilang dari kehidupan masyarakat sehari-hari.

Selain faktor modernisasi, perubahan sosial juga memengaruhi keberlanjutan tradisi ini. Generasi muda saat ini lebih akrab dengan budaya digital dan hiburan modern dibandingkan tradisi lokal daerahnya sendiri. Proses pewarisan budaya yang sebelumnya berlangsung secara alami melalui kehidupan sosial masyarakat kini semakin terbatas. Banyak generasi muda Dompu yang mengenal Kareku Kandei hanya sebagai pertunjukan budaya pada acara tertentu, bukan sebagai bagian dari kehidupan sosial yang memiliki nilai filosofis mendalam.

Ancaman kepunahan Tradisi Kareku Kandei juga diperkuat oleh minimnya dokumentasi budaya yang tersimpan secara sistematis. Hingga saat ini, sebagian besar pengetahuan mengenai sejarah, makna simbolik, tata pelaksanaan, syair, pola irama, hingga nilai adat tradisi tersebut masih tersimpan dalam ingatan tokoh adat dan masyarakat lanjut usia. Belum banyak arsip digital, dokumentasi audio visual, maupun kajian tertulis yang mampu merekam keseluruhan pengetahuan budaya tersebut secara lengkap. Kondisi ini menyebabkan tradisi menjadi sangat rentan hilang ketika pelaku budaya atau tetua adat meninggal dunia tanpa sempat mewariskan pengetahuannya secara utuh.

Dalam konteks geografis, Kabupaten Dompu merupakan salah satu daerah di NTB yang memiliki tingkat kerawanan bencana cukup tinggi. Wilayah Dompu menghadapi ancaman banjir musiman, kekeringan panjang, cuaca ekstrem, kebakaran lahan, abrasi pesisir, hingga potensi gempa bumi akibat posisi geografis Pulau Sumbawa yang berada pada kawasan cincin api Indonesia. Beberapa wilayah seperti Kecamatan Woja, Kempo, Hu’u, Pajo, dan Dompu Kota termasuk daerah yang sering terdampak banjir dan cuaca ekstrem ketika musim penghujan. Sementara wilayah Manggelewa dan Kilo cukup rentan terhadap kekeringan dan krisis air saat musim kemarau panjang.

Kondisi wilayah rawan bencana tersebut berpengaruh terhadap keberlangsungan budaya masyarakat, termasuk Tradisi Kareku Kandei. Dalam situasi bencana, masyarakat lebih fokus pada pemulihan ekonomi dan kebutuhan dasar sehingga aktivitas budaya sering kali terabaikan. Selain itu, berbagai benda budaya seperti alat tradisional, arsip keluarga, dan pengetahuan lokal berpotensi hilang akibat kerusakan lingkungan maupun perpindahan masyarakat. Jika pengetahuan budaya masih diwariskan secara lisan tanpa dokumentasi yang memadai, maka risiko hilangnya tradisi menjadi semakin besar.

Di sisi lain, perkembangan daerah Dompu yang terus bergerak menuju pembangunan modern juga membawa tantangan baru terhadap keberadaan budaya lokal. Pembangunan infrastruktur, perubahan pola ekonomi masyarakat, serta tingginya mobilitas sosial membuat ruang-ruang budaya tradisional semakin menyempit. Tradisi yang dahulu hidup di tengah aktivitas masyarakat kini lebih banyak muncul sebagai pertunjukan seremonial pada festival budaya atau acara pemerintahan. Walaupun kondisi ini menunjukkan bahwa Kareku Kandei masih dikenal masyarakat, namun fungsi sosial dan nilai kebersamaan yang dahulu melekat dalam tradisi tersebut mulai mengalami pergeseran.

Meski demikian, Tradisi Kareku Kandei masih memiliki peluang besar untuk dilestarikan. Nilai gotong royong, solidaritas sosial, penghormatan terhadap perempuan, dan semangat kebersamaan yang terkandung di dalamnya masih sangat relevan dengan kebutuhan masyarakat Dompu saat ini. Tradisi ini juga memiliki potensi sebagai sumber edukasi budaya, penguatan identitas lokal, serta pengembangan pariwisata budaya berbasis masyarakat apabila didukung dengan dokumentasi dan pelestarian yang berkelanjutan.

Jika dianalisis lebih jauh, ancaman kepunahan Tradisi Kareku Kandei dapat dilihat dari beberapa indikator, yaitu:

1.     Menurunnya frekuensi pelaksanaan tradisi dalam kehidupan masyarakat.
Tradisi yang dahulu hidup dalam keseharian masyarakat kini mulai jarang dilaksanakan dan cenderung bersifat seremonial.

2.     Terbatasnya jumlah pelaku budaya dan tokoh adat yang memahami tradisi secara utuh.
Pengetahuan budaya masih terpusat pada generasi tua dan belum banyak diwariskan kepada generasi muda.

3.     Minimnya dokumentasi tertulis dan digital.
Tidak tersedianya arsip budaya yang memadai menyebabkan pengetahuan budaya sangat rentan hilang.

4.     Rendahnya keterlibatan generasi muda dalam kegiatan budaya lokal.
Perubahan gaya hidup dan pengaruh budaya luar membuat sebagian generasi muda kurang mengenal tradisi daerahnya sendiri.

5.     Belum adanya sistem perlindungan budaya berbasis komunitas pada wilayah rawan bencana.
Budaya lokal belum memiliki sistem penyelamatan data dan dokumentasi yang siap digunakan dalam situasi darurat.

 

Karena itu, pengembangan sistem dokumentasi darurat berbasis komunitas menjadi langkah penting dan mendesak untuk dilakukan. Dokumentasi melalui foto, video, rekaman cerita lisan, arsip digital, serta pelibatan generasi muda dalam proses pelestarian budaya diharapkan mampu menjaga eksistensi Tradisi Kareku Kandei di tengah ancaman kepunahan dan kondisi wilayah rawan bencana di Kabupaten Dompu. Dengan demikian, warisan budaya ini tidak hanya tetap dikenal sebagai simbol masa lalu, tetapi dapat terus hidup sebagai identitas budaya masyarakat Dompu untuk generasi mendatang.

Senin, 25 November 2019

Beasiswa Pascasarjana Untuk Guru Madrasah

Alhamdulillah penulis panjatkan, atas berkah dan rahmat-Nya memberikan kesempatan kepada kami, sebanyak 18 orang guru madrasah dari berbagai daerah untuk melanjutkan studi Pascasarjana pada Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang. Nawaitu Kementerian Agama menciptakan SDM guru madrasah melalui program ini sangat berharap terciptanya  generasi yang dicetak oleh hasil lulusan ini membawa pengaruh yang luar biasa kepada peserta didik dan kemajuan madrasah kedepan.
Perkuliahan yang dimulai sejak bulan September yang lalu, menjadi awal perubahan pola pikir kritis guru secara ilmiah dalam menjawab berbagai tantangan masyarakat dan dunia pendidikan di era perkembangan kemodernisasian dan teknologi.
Beberapa teman saya menyatakan mulai asyik dan menikmati proses perkuliahan, dan kami sangat berbangga diajar oleh dosen-dosen UIN Walisongo yang memang sangat mumpuni dalam mata kuliahnya masing-masing.
Berjalannya waktu tak terasa di pertengahan  bulan Desember ini, perkuliahan untuk semester pertama akan berakhir. kamipun dituntun dengan tugas akhir di masing-masing mata kuliah untuk reviw makalah serta penyusunan tugas akhir semester.

Mahasiswa Pascasarjan Bima-Dompu-Semarang


Organisasi mahasiswa dari daerah Kabupaten Bima dan Kabupaten Dompu yang dibentuk sejak tahun 2017 lalu beranggotakan sekumpulan mahasiswa yang berasal dari daerah Bima dan Dompu yang melanjutkan studi di Provinsi Jawa Tengah. Perkumpulan ini mempunyai visi,misi dan tujuan tujuan yang sama. Membangun visi misi kedaerahan adalah tujuan dan arah organisasi yang menamai dirinya Forum Komunikasi Mahasiswa Pascasarjana Bima Dompu (FORKOMAPABID)- Semarang ini.

FORKOMAPABID (24/11/2019) terbentuk kepengurusan untuk periode bakti 2019/2020, dengan struktur kepengurusan sebagai ketua Umum Nahrul Faidin, S.Pd (Mahasiswa Pascasarjana UNES), Irwansyah,S.Pd.M.Pd sebagai Sekretaris Umum dan Sri Suryaningsih,S.Pd sebagai bendahara. Beberapa bidang yang ada dalam organisasi FORKOMAPABID , pertama bidang Pendidikan, kesehatan dan riset. Kedua, Bidang Seni, Budaya dan Olahraga. Ketiga, Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Sosial Kemasyarakatan. Keempat, Bidang Media dan Pengembangan Teknologi. Kelima, Bidang Dakwah, dan bidang hokum dan advokasi. Masing-masing bidang diakomodir seorang koordinator dan beberapa anggota. Koordinator dan anggota merencanakan dan melaksanakan agenda kegiatan sesuai tupoksi masing-masing bidang. 
Forum ini menjadi sarana kontribusi para anak rantau untuk daerahnya (BIMA-DOMPU), tentu dengan fokus pada pembangunan daerah.
Beberapa kegiatan yang pernah dilakukan antara lain diskusi ilmiah antar mahasiswa pascasarjana dan mahasiswa calon sarjana muda, menumbuhkan semangat patritosme dan nasionalisme melalui peringatan hari Pancasila dan hari-hari besar nasional lainnya, bakti social, kajian islami juga ikut dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan yang ada di kota Semarang. Selain itu, berbagai pentas seni budaya daerah juga ditunjukan dalam ivent-ivent organisasi untuk menjaga nilai-nilai budaya daerah Bima dan Dompu agar tidak luntur dan dikenal oleh masyarakat Jawa Tengah. Tujuan lain yang tidak kalah pentingnya, FORKOMAPABID juga berperan dalam menjaga semangat silaturahmi agar tetap terjaga pada diri masing-masing anggota. 
Di sinilah peran organisasi mahasiswa daerah untuk terus menjaga anggotanya, sehingga rasa kekeluargaan dan tali persaudaraan kasih sayang yang sudah diperetat oleh faktor kedaerahan akan semakin erat dan meningkat. Jika sudah lebih akrab dan saling mengenal pribadi dan sifat masing-masing anggota, maka akan semakin mudah mahasiswa organisasi daerah dalam berkontribusi untuk daerahnya.

Sabtu, 17 Maret 2018

RPP Akidah Akhlak kelas I-VI Kurikulum 2013

Assalamu'alaikum warrahmatullahi wabarkatuh
Gimana kabar sahabat, semoga sampai dengan waktu ini sahabat masih dalam naungan Allah SWT. Amin...Allohuma Amin.
Sahabat guru yang berbahagia, kali ini saya ingin berbagi perangkat pembelajaran untuk Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Akidah Akhlak Kurikulum 2013.
mudah-mudahan RPP ini bisa membantu sahabat guru dalam mengembangkan inovasi-inovasi dalam pembelajaran.
untuk itu, langsung unduh aja filenya di bawah ini :

rpp akidah akhlak k13

semoga bermanfaat !

Kamis, 09 November 2017

Buku PAI dan Bahasa Arab Kelas 3 Kurikulum 2013

Sahabat guru yang ikhlas
Pada kesempatan ini saya ingin berbagi kepada guru-guru Madrasah Ibtidaiyah buku Kurikulum 2013 khususnya buku untuk mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) dan Bahasa Arab.
Nah, bagi sahabat guru yang belum nemuin buku tersebut silahkan download link di bawah ini.
semoga bermanfaat .!

Buku Guru Kelas 3 :
1. Akidah Akhlak   (download)
2. Al Qur'an Hadist (download)
3. Fiqih (download)
4. SKI (download)
5. Bahasa Arab (download)

untuk buku siswa akan diupload berikutnya.