Profil Tradisi Kareku Kandei dan Analisis Ancaman Kepunahannya di Kabupaten Dompu
Tradisi Kareku Kandei merupakan salah satu warisan budaya hidup masyarakat Mbojo yang berkembang di wilayah Bima dan Dompu, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Dalam bahasa Mbojo, “kareku” berarti memukul atau menumbuk secara berirama, sedangkan “kandei” berarti lesung, yaitu alat tradisional penumbuk padi. Tradisi ini pada awalnya lahir dari kehidupan agraris masyarakat Dompu yang sangat bergantung pada hasil pertanian, khususnya padi. Aktivitas menumbuk padi dilakukan secara bersama-sama oleh kaum perempuan menggunakan alu dan lesung kayu sambil menghasilkan irama tertentu yang khas.
Dalam perkembangannya, Kareku
Kandei tidak hanya berfungsi sebagai aktivitas pengolahan hasil pertanian,
tetapi juga menjadi media sosial budaya masyarakat. Bunyi irama lesung menjadi
penanda adanya hajatan, syukuran, pesta adat, atau kegiatan gotong royong
masyarakat. Ketika suara Kareku Kandei terdengar, masyarakat akan berdatangan
untuk membantu pelaksanaan kegiatan yang sedang berlangsung. Tradisi ini
mencerminkan tingginya nilai solidaritas, kebersamaan, dan rasa kekeluargaan
masyarakat Dompu tempo dahulu.
Di Kabupaten Dompu, tradisi ini
pernah hidup dan berkembang di berbagai wilayah pedesaan, terutama pada
komunitas masyarakat agraris di Kecamatan Woja, Kempo, Hu’u, Manggelewa, Pajo,
Dompu, dan Kilo. Tradisi ini biasanya dimainkan oleh kelompok perempuan dengan
menggunakan pakaian adat seperti Tembe Nggoli, kain tenun khas Bima-Dompu.
Irama pukulan alu pada lesung menghasilkan suara ritmis yang menjadi simbol
komunikasi budaya masyarakat. Selain mengandung nilai estetika, Kareku Kandei
juga menjadi ruang silaturahmi perempuan, media pewarisan budaya, serta bentuk
ungkapan rasa syukur masyarakat terhadap hasil panen dan kehidupan sosial yang
harmonis.
Namun, eksistensi Tradisi Kareku
Kandei saat ini menghadapi tantangan serius. Perubahan pola kehidupan
masyarakat akibat modernisasi menyebabkan fungsi utama tradisi ini mulai
tergeser. Kehadiran mesin penggiling padi modern secara perlahan menggantikan penggunaan
lesung tradisional yang dahulu menjadi pusat aktivitas budaya masyarakat.
Akibatnya, alat-alat tradisional seperti kandei (lesung) semakin jarang
digunakan bahkan mulai hilang dari kehidupan masyarakat sehari-hari.
Selain faktor modernisasi,
perubahan sosial juga memengaruhi keberlanjutan tradisi ini. Generasi muda saat
ini lebih akrab dengan budaya digital dan hiburan modern dibandingkan tradisi
lokal daerahnya sendiri. Proses pewarisan budaya yang sebelumnya berlangsung
secara alami melalui kehidupan sosial masyarakat kini semakin terbatas. Banyak
generasi muda Dompu yang mengenal Kareku Kandei hanya sebagai pertunjukan
budaya pada acara tertentu, bukan sebagai bagian dari kehidupan sosial yang
memiliki nilai filosofis mendalam.
Ancaman kepunahan Tradisi Kareku
Kandei juga diperkuat oleh minimnya dokumentasi budaya yang tersimpan secara
sistematis. Hingga saat ini, sebagian besar pengetahuan mengenai sejarah, makna
simbolik, tata pelaksanaan, syair, pola irama, hingga nilai adat tradisi
tersebut masih tersimpan dalam ingatan tokoh adat dan masyarakat lanjut usia.
Belum banyak arsip digital, dokumentasi audio visual, maupun kajian tertulis
yang mampu merekam keseluruhan pengetahuan budaya tersebut secara lengkap.
Kondisi ini menyebabkan tradisi menjadi sangat rentan hilang ketika pelaku
budaya atau tetua adat meninggal dunia tanpa sempat mewariskan pengetahuannya
secara utuh.
Dalam konteks geografis,
Kabupaten Dompu merupakan salah satu daerah di NTB yang memiliki tingkat
kerawanan bencana cukup tinggi. Wilayah Dompu menghadapi ancaman banjir
musiman, kekeringan panjang, cuaca ekstrem, kebakaran lahan, abrasi pesisir,
hingga potensi gempa bumi akibat posisi geografis Pulau Sumbawa yang berada
pada kawasan cincin api Indonesia. Beberapa wilayah seperti Kecamatan Woja,
Kempo, Hu’u, Pajo, dan Dompu Kota termasuk daerah yang sering terdampak banjir
dan cuaca ekstrem ketika musim penghujan. Sementara wilayah Manggelewa dan Kilo
cukup rentan terhadap kekeringan dan krisis air saat musim kemarau panjang.
Kondisi wilayah rawan bencana
tersebut berpengaruh terhadap keberlangsungan budaya masyarakat, termasuk
Tradisi Kareku Kandei. Dalam situasi bencana, masyarakat lebih fokus pada
pemulihan ekonomi dan kebutuhan dasar sehingga aktivitas budaya sering kali terabaikan.
Selain itu, berbagai benda budaya seperti alat tradisional, arsip keluarga, dan
pengetahuan lokal berpotensi hilang akibat kerusakan lingkungan maupun
perpindahan masyarakat. Jika pengetahuan budaya masih diwariskan secara lisan
tanpa dokumentasi yang memadai, maka risiko hilangnya tradisi menjadi semakin
besar.
Di sisi lain, perkembangan daerah
Dompu yang terus bergerak menuju pembangunan modern juga membawa tantangan baru
terhadap keberadaan budaya lokal. Pembangunan infrastruktur, perubahan pola
ekonomi masyarakat, serta tingginya mobilitas sosial membuat ruang-ruang budaya
tradisional semakin menyempit. Tradisi yang dahulu hidup di tengah aktivitas
masyarakat kini lebih banyak muncul sebagai pertunjukan seremonial pada
festival budaya atau acara pemerintahan. Walaupun kondisi ini menunjukkan bahwa
Kareku Kandei masih dikenal masyarakat, namun fungsi sosial dan nilai
kebersamaan yang dahulu melekat dalam tradisi tersebut mulai mengalami
pergeseran.
Meski demikian, Tradisi Kareku
Kandei masih memiliki peluang besar untuk dilestarikan. Nilai gotong royong,
solidaritas sosial, penghormatan terhadap perempuan, dan semangat kebersamaan
yang terkandung di dalamnya masih sangat relevan dengan kebutuhan masyarakat
Dompu saat ini. Tradisi ini juga memiliki potensi sebagai sumber edukasi
budaya, penguatan identitas lokal, serta pengembangan pariwisata budaya
berbasis masyarakat apabila didukung dengan dokumentasi dan pelestarian yang
berkelanjutan.
Jika dianalisis
lebih jauh, ancaman kepunahan Tradisi Kareku Kandei dapat dilihat dari
beberapa indikator, yaitu:
1. Menurunnya frekuensi pelaksanaan
tradisi dalam kehidupan masyarakat.
Tradisi yang dahulu hidup dalam keseharian masyarakat kini mulai jarang
dilaksanakan dan cenderung bersifat seremonial.
2. Terbatasnya jumlah pelaku budaya
dan tokoh adat yang memahami tradisi secara utuh.
Pengetahuan budaya masih terpusat pada generasi tua dan belum banyak diwariskan
kepada generasi muda.
3. Minimnya dokumentasi tertulis dan
digital.
Tidak tersedianya arsip budaya yang memadai menyebabkan pengetahuan budaya
sangat rentan hilang.
4. Rendahnya keterlibatan generasi
muda dalam kegiatan budaya lokal.
Perubahan gaya hidup dan pengaruh budaya luar membuat sebagian generasi muda
kurang mengenal tradisi daerahnya sendiri.
5. Belum adanya sistem perlindungan
budaya berbasis komunitas pada wilayah rawan bencana.
Budaya lokal belum memiliki sistem penyelamatan data dan dokumentasi yang siap
digunakan dalam situasi darurat.
Karena itu, pengembangan sistem dokumentasi darurat berbasis komunitas menjadi langkah penting dan mendesak untuk dilakukan. Dokumentasi melalui foto, video, rekaman cerita lisan, arsip digital, serta pelibatan generasi muda dalam proses pelestarian budaya diharapkan mampu menjaga eksistensi Tradisi Kareku Kandei di tengah ancaman kepunahan dan kondisi wilayah rawan bencana di Kabupaten Dompu. Dengan demikian, warisan budaya ini tidak hanya tetap dikenal sebagai simbol masa lalu, tetapi dapat terus hidup sebagai identitas budaya masyarakat Dompu untuk generasi mendatang.

